Renewable Energy

Sustainable Aviation Fuel Indonesia: Peran Strategis Minyak Jelantah dalam Dekarbonisasi Penerbangan

Sustainable Aviation Fuel (SAF)

Dekarbonisasi Industri Penerbangan

Transisi dan Swasembada Energi

Ekonomi Sirkular dan Pemanfaatan Limbah

Peta Jalan dan Kebijakan Iklim

Rantai Pasok Bioenergi Hijau

Executive Summary

Pengembangan SAF menempati posisi strategis dalam agenda transisi energi Indonesia dan sejalan dengan visi “swasembada energi” yang dicanangkan dalam Asta Cita. Dengan sektor energi menjadi penyumbang emisi terbesar nasional di mana transportasi menyumbang 22% dan SAF menawarkan solusi dekarbonisasi yang realistis bagi industri penerbangan yang sulit dialihkan ke teknologi lain seperti elektrifikasi. SAF mampu mengurangi emisi hingga 80% selama siklus hidupnya, serta memiliki potensi menurunkan emisi penerbangan internasional hingga 63% pada 2050.

Indonesia memiliki modal kuat berupa ketersediaan bahan baku biomassa yang melimpah, terutama limbah pertanian dan Used Cooking Oil (UCO). Potensi UCO nasional mencapai 3–4 juta kL per tahun, namun baru sekitar 23% yang berhasil dikumpulkan. Kondisi ini menunjukkan adanya peluang besar untuk membangun rantai pasok bahan baku SAF berbasis ekonomi sirkular, sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari UCO yang tidak terkelola.

Melalui Peta Jalan Pengembangan Industri SAF, pemerintah telah menetapkan sasaran blending awal 1% pada 2027 serta membangun kerangka kelembagaan melalui pembentukan government task force yang berfokus pada aspek supply, demand, dan enablers. Pendekatan bertahap hingga target jangka panjang 50% pada 2060 memberikan kepastian bagi investor dan pelaku industri untuk meningkatkan kapasitas produksi dan infrastruktur.

Meski demikian, Indonesia dan kawasan Asia masih menghadapi tantangan regulasi yang signifikan. Tidak seperti Eropa yang telah memiliki mandat SAF mengikat melalui ReFuelEU Aviation dan infrastruktur bandara yang matang, Asia masih tertinggal karena lemahnya harmonisasi kebijakan, ketiadaan mandat nasional yang kuat, serta terbatasnya pasokan SAF reguler di bandara yaitu hanya sekitar 10% bandara Asia yang memiliki pasokan SAF yang stabil menurut pemetaan T&E.

Get the Full Insight Report Now

Uncover exclusive data, expert analysis, and practical strategies to navigate global trade shifts and build resilient, ESG-aligned supply chains.

Fill Out this Form to Download the Full Version: