#FutureStartsHere and empower your business with impactful solutions for a sustainable tomorrow.
Publikasi ini merangkum pemikiran, perspektif, dan pembelajaran utama yang disampaikan oleh para narasumber dalam acara Green Economic Outlook 2026 yang diselenggarakan oleh ICSA dan Olahkarsa. Rangkuman ini diharapkan dapat menjadi referensi strategis bagi para profesional dan pengambil keputusan dalam memahami arah ekonomi hijau Indonesia, perkembangan regulasi, peluang investasi berkelanjutan, serta praktik terbaik dalam integrasi ESG guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Memasuki tahun 2025, lanskap regulasi keberlanjutan di Indonesia dan global menunjukkan eskalasi yang signifikan, ditandai dengan pergeseran paradigma dari pendekatan kepatuhan administratif menuju pengelolaan lingkungan, sosial, dan iklim yang berbasis kinerja, bukti, serta keterukuran.
Pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) menempati posisi strategis dalam agenda transisi energi dan visi swasembada energi Indonesia. Dengan memanfaatkan potensi besar Minyak Jelantah (UCO), Indonesia menargetkan blending SAF sebesar 1% pada 2027 sebagai solusi dekarbonisasi penerbangan yang mendukung ekonomi sirkular.
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) semakin menempati posisi strategis dalam mendorong transformasi menuju keberlanjutan. Melalui kemampuan analisis data berskala besar dan pengambilan keputusan berbasis bukti, kecerdasan buatan berperan sebagai akselerator bagi strategi ESG (Environmental, Social, and Governance) yang lebih efektif, adaptif, dan terukur.
Menganalisis pidato Presiden di Sidang Umum PBB ke-80 yang menegaskan komitmen Indonesia dan peran Indonesia dalam ketahanan pangan, energi bersih, dan adaptasi iklim.
Membahas tantangan yang dihadapi oleh sektor perkebunan Indonesia dalam memenuhi regulasi bebas deforestasi yang diterapkan oleh Uni Eropa.
Membahas integrasi ESG dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada 2 April 2025, Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan “Reciprocal Tariffs” dengan tarif dasar 10% untuk semua impor dan tambahan hingga 125% bagi negara tertentu, termasuk 32% bagi Indonesia, yang memicu disrupsi besar dalam rantai pasok global. Negara-negara merespons dengan tarif balasan dan mempercepat diversifikasi rantai pasok untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber. Asia Tenggara, khususnya Indonesia, dinilai potensial sebagai pusat relokasi manufaktur berkat keunggulan geografis, pasar besar, dan biaya tenaga kerja yang kompetitif. Namun, agar dapat memanfaatkan peluang ini, Indonesia perlu mempercepat reformasi struktural, meningkatkan standar ESG, dan memperkuat resiliensi rantai pasok untuk bersaing dalam tatanan perdagangan global yang baru dan lebih proteksionis.